Edisi 1
Mungkin aku
melupakan suatu hal bahwa ayah dan ibu semakin lama semakin senja, bahwa
semakin lama fisik mereka semakin melemah, gangguan kesehatan fisik dan
kesehatan psikologis mulai mendekati mereka. Wajah yang makin hari makin kusam mengkerut
berkeriput, terbakar kerasnya hari-hari yang harus mereka lalui dengan tak
hentinya bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah. Semua itu mereka
lakukan demi kelangsungan pendidikan aku dan adikku untuk meraih impian dan
menaikkan derajat keluarga kecil ini.
Nah, lalu
aku disini? Yang masih muda, segar bugar, masih kokoh berdiri, hanya bersantai,
berleha-leha, sibuk dengan bersenang-senang ria. Sibuk dengan kegiatan yang
memikirkan mode, style. Yang semuanya itu di adaptasi dari sumber-sumber
pergaulan yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk di tiru. Seharusnya aku
segera sadar, bahwa keluarga ini bukanlah keluarga yang berkelimpahan harta dan
tahta. Harta dan materi sungguh minim disini. Untuk pendidikan dan makan saja
sudah bersyukur sekali. Karena terlalu berfokus pada kebutuhan pendidikan,
terkadang masalah anggaran kesehatan sering kali di nomorduakan. Jika ayah dan ibu jatuh sakit, bagaimana aku
harus menghadapinya? Bagaimana aku bisa membiayai mereka dengan simpanan harta
yang minim sekali di keluarga ini? Mengandalkan pihak keluarga yang lain?
Mungkin ini adalah cara yang sangat tidak efektif. Yang terkadang bisa
memunculkan konflik antar keluarga hanya karena masalah “Uang.”
Uang, ya
Uang. Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang!
Boros yang
telah mendarahdaging di dalam karakter ku ini benar-benar membuatku harus
bekerja keras menjadi anak yang disiplin dan efisien dalam mengelola keuangan.
Agar aku siap dalam menghadapi hal-hal buruk yang mungkin bisa saja menimpaku,
yang terutama berhubungan erat dengan uang.
Aku tidak
akan dan tidak ingin menyalahkan ayah dan ibu atas nasib ekonomi keluarga yang
kian terpuruk. Banyak hikmah yang dapat di petik dari keadaan ini. Aku bisa
berfikir lebih kritis dan mulai berfikir tuk mandiri dalam hal financial.
Mental ku pun juga di tempa, sehingga ku tidak akan terkejut lagi dengan
kondisi yang susah dan serba terbatas.
Ayah dan ibu
memang bukan seorang “SARJANA”. Tapi sungguh, pemahaman yang selalu mereka
tuangkan pada ku, menggambarkan bahwa pemikiran mereka sangat cerdas sekali
melebihi cerdasnya seorang sarjana. Terutama ayah, beliau yang sungguh idealis
sekali telah menginspirasi diriku. Tak lupa pula ibu, yang menjunjung tinggi
berbuat baik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain. Pemahaman-pemahaman
itu jauh lebih mahal dari sekedar benda yang bernama Uang.
Bahasa tubuh
mereka menerjemahkan sesuatu bahwa mereka sungguh-sungguh mengharapkan aku
menjadi anak yang dapat membanggakan mereka, dan bekerja maksimal dalam
menaikkan derajat keluarga ini. Tanggung jawab yang melebihi amanah jabatan.
Berat tapi pasti. Pasti akan ku renungkan, ku fikirkan, dan selalu ku taruh
dengan apik di dalam bulatny tekad ku.
Kini aku
harus sedikit menyiksa dan mencambuk jiwaku, agar aku selalu focus dan
konsisten, tekun, gigih , dan bergairah untuk menjalani dan menelusuri proses
menjadi ANAK MUDA yang SUKSES. SUKSES SEMUDA MUNGKIN !!