Jumat, 18 Oktober 2013



Edisi 1

Mungkin aku melupakan suatu hal bahwa ayah dan ibu semakin lama semakin senja, bahwa semakin lama fisik mereka semakin melemah, gangguan kesehatan fisik dan kesehatan psikologis mulai mendekati mereka. Wajah yang makin hari makin kusam mengkerut berkeriput, terbakar kerasnya hari-hari yang harus mereka lalui dengan tak hentinya bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah. Semua itu mereka lakukan demi kelangsungan pendidikan aku dan adikku untuk meraih impian dan menaikkan derajat keluarga kecil ini.

Nah, lalu aku disini? Yang masih muda, segar bugar, masih kokoh berdiri, hanya bersantai, berleha-leha, sibuk dengan bersenang-senang ria. Sibuk dengan kegiatan yang memikirkan mode, style. Yang semuanya itu di adaptasi dari sumber-sumber pergaulan yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk di tiru. Seharusnya aku segera sadar, bahwa keluarga ini bukanlah keluarga yang berkelimpahan harta dan tahta. Harta dan materi sungguh minim disini. Untuk pendidikan dan makan saja sudah bersyukur sekali. Karena terlalu berfokus pada kebutuhan pendidikan, terkadang masalah anggaran kesehatan sering kali di nomorduakan.  Jika ayah dan ibu jatuh sakit, bagaimana aku harus menghadapinya? Bagaimana aku bisa membiayai mereka dengan simpanan harta yang minim sekali di keluarga ini? Mengandalkan pihak keluarga yang lain? Mungkin ini adalah cara yang sangat tidak efektif. Yang terkadang bisa memunculkan konflik antar keluarga hanya karena masalah “Uang.”
Uang, ya Uang. Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang!
Boros yang telah mendarahdaging di dalam karakter ku ini benar-benar membuatku harus bekerja keras menjadi anak yang disiplin dan efisien dalam mengelola keuangan. Agar aku siap dalam menghadapi hal-hal buruk yang mungkin bisa saja menimpaku, yang terutama berhubungan erat dengan uang.

Aku tidak akan dan tidak ingin menyalahkan ayah dan ibu atas nasib ekonomi keluarga yang kian terpuruk. Banyak hikmah yang dapat di petik dari keadaan ini. Aku bisa berfikir lebih kritis dan mulai berfikir tuk mandiri dalam hal financial. Mental ku pun juga di tempa, sehingga ku tidak akan terkejut lagi dengan kondisi yang susah dan serba terbatas.

Ayah dan ibu memang bukan seorang “SARJANA”. Tapi sungguh, pemahaman yang selalu mereka tuangkan pada ku, menggambarkan bahwa pemikiran mereka sangat cerdas sekali melebihi cerdasnya seorang sarjana. Terutama ayah, beliau yang sungguh idealis sekali telah menginspirasi diriku. Tak lupa pula ibu, yang menjunjung tinggi berbuat baik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain. Pemahaman-pemahaman itu jauh lebih mahal dari sekedar benda yang bernama Uang.

Bahasa tubuh mereka menerjemahkan sesuatu bahwa mereka sungguh-sungguh mengharapkan aku menjadi anak yang dapat membanggakan mereka, dan bekerja maksimal dalam menaikkan derajat keluarga ini. Tanggung jawab yang melebihi amanah jabatan. Berat tapi pasti. Pasti akan ku renungkan, ku fikirkan, dan selalu ku taruh dengan apik di dalam bulatny tekad ku.

Kini aku harus sedikit menyiksa dan mencambuk jiwaku, agar aku selalu focus dan konsisten, tekun, gigih , dan bergairah untuk menjalani dan menelusuri proses menjadi ANAK MUDA yang SUKSES. SUKSES SEMUDA MUNGKIN !!